YA ALLAH, TUMBUHKANLAH DALAM DIRI DAN HATI KAMI INI, RASA CINTA KEPADA-MU SERTA PARA NABI DAN RASUL-MU......

Rabu, 07 Maret 2012

Konsep Aqidah Maturidiyah

Pada prinsipnya, aqidah Maturidiyah memiliki keselarasan dengan aqidah Asy’ariyah. Itu ditunjukkan oleh cara memahami agama yang tidak secara ekstrem sebagaimana Mu’tazilah. Yang sedikit membedakan keduanya adalah masalah madzhab fiqhnya, Asy’ariyah menggunakan madzhab Syafi’I dan Maliki, sedangkan Maturidiyah menggunakan madzhab Hanafi.
Asy’ariyah berhadapan langsung dengan kelompok Mu’tazilah sedangkan Maturidiyah menghadapi berbagai kelompok yang cukup banyak. Diantara kelompok yang muncul pada waktu itu adalah Mu’tazilah, Mujasimah, Qaramithah dan Jahmiyah. Juga kelompok agama lain seperti Yahudi, Majusi dan Nasrani.

Sikap tawasuth yang ditunjukkan Maturidiyah adalah upaya pendamaian antara an naqli dan al ‘aqli (nash dan akal). Maturidiyah berpendapat bahwa suatu kesalahan apabila kita berhenti berbuat pada saat tidak terdapat nash (naql), sama juga salah apabila kita larut tidak terkendali menggunakan rasio (‘aql). Menggunakan ‘aql sama pentingnya dengan menggunakan naql. Sebab akal yang dimiliki oleh manusia juga berasal dari Allah, karena itu dalam al Qur’an Allah memerintahkan umat Islam untuk menggunakan akal dalam memahami tanda-tanda (al ayat) kekuasaan Allah yang terdapat di alam raya. Dalam al Qur’an misalnya ada kalimat “liqaumin yatafakkarun, liqaumin ya’qilun, liqaumin yatadzakkarun, la’allakum tasykurun, la’allakum tahtadun” dan lain sebagainya. Artinya bahwa penggunaan akal itu, semuanya diperuntukkan agar manusia memperteguh iman dan taqwanya kepada Allah SWT.

Yang sedikit membedakan dengan Asy’ariyah adalah pendapat Maturidiyah tentang posisi akal terhadap wahyu. Menurut Maturidiyah, wahyu harus diterima panuh. Tapi jika terjadi perbedaan antara wahyu dan akal, maka akal harus berperan mentakwilkannya. Terhadap ayat-ayat tasjim (Allah bertubuh) atau tasybih (Allah serupa makhluk) harus ditafsirkan dengan arti majazi (kiasan). Contoh seperti lafal “yadullah” yang arti aslinya “tangan Allah” ditakwil menjadi “kekuasaan Allah”.

Tentang sifat Allah, Maturidiyah dan Asy’ariyah sama-sama menerimanya. Namun, sifat-sifat itu bukan sesuatu yang berada diluar dzat_Nya. Sifat tidak sama dengan dzat, tetapi tidak dari selain Allah. Misalnya, Tuhan Maha Mengetahui bukanlah dengan dzat_Nya, tetapi dengan pengetahuan (‘ilm)_Nya (ya’lamu bi ‘ilmihi).
Dalam persoalan “kekuasaan” dan “kehendak” (qudrah dan iradah) Tuhan, Maturidiyah berpendapat bahwa kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan dibatasi oleh Tuhan sendiri. Jadi tidak mutlak. Meskipun demikian, Tuhan tuhan tidak dapat paksa atau terpaksa berbuat apa yang dikehendaki_Nya. Misalnya Allah menjanjikan orang baik masuk surge, orang jahat masuk neraka, maka Allah akan menepati jani-janji tersebut. Tapi dalam hal ini, manusia diberikan kebebasan oleh Allah menggunakan daya untuk memilih antara yang baik dan yang buruk. Itulah keadilan Tuhan.

Karena manusia diberi kebebasan untuk memilih dalam berbuat, maka menurut Maturidiyah, perbuatan itu tetap diciptakan oleh Tuhan. Sehingga perbuatan manusia sebagai perbuatan bersama antara manusia dan Tuhan. Allah yang mencipta dan menusia meng-kasab-nya. Dengan begitu manusia yang dikehendaki adalah manusia selalu kreatif, tetapi kreatif itu tidak menjadikan makhluk sombong karena merasa mampu menciptakan dan mewujudkan. Tetapi manusia yang kreatif dan pandai bersyukur. Karena kemampuannya melakukan sesuatu tetap dalam ciptaan Allah.

Disarikan dari buku Aswaja An Nahdliyah PWNU JATIM

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar